Transformasi digital kini menjadi faktor penting untuk menentukan kelangsungan dan daya saing perusahaan di Indonesia. Menurut berbagai analisis McKinsey, adopsi AI dan generative AI memiliki potensi besar dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi, asalkan diintegrasikan dengan tepat ke dalam proses bisnis. Di sisi lain, World Economic Forum memprediksi bahwa lebih dari 70% nilai baru dalam dekade mendatang akan berasal dari model bisnis berbasis platform digital, menunjukkan bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan, tetapi kebutuhan struktural bagi perusahaan agar tetap relevan.
Pergeseran perilaku konsumen di Indonesia juga semakin menuntut perusahaan untuk bergerak cepat. Laporan eConomy SEA 2025 oleh Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat bahwa 62% konsumen di Asia Tenggara kini membuat keputusan pembelian yang dipengaruhi oleh fitur berbasis kecerdasan buatan. Hal ini semakin mempertegas pentingnya adopsi teknologi dalam strategi pemasaran dan operasional perusahaan.
Transformasi Budaya dan Model Bisnis: Kunci untuk Bertahan
Prof. Agus W. Soehadi, Guru Besar Pemasaran dan Branding Universitas Prasetiya Mulya, mengingatkan bahwa digitalisasi bukan hanya soal teknologi, melainkan juga perubahan budaya organisasi, pola pikir kepemimpinan, dan model bisnis yang lebih responsif terhadap dinamika teknologi dan preferensi konsumen.
Di era digital, perusahaan harus memiliki tingkat keterhubungan yang tinggi, berinteraksi secara real-time dengan konsumen, dan menjadikan konsumen sebagai ko-kreator nilai. Konsumen kini lebih dari sekadar pembeli; mereka adalah pemberi masukan sekaligus penentu reputasi merek. Oleh karena itu, pengalaman pelanggan menjadi faktor penentu dalam kesuksesan perusahaan.
“Keunggulan bersaing di era digital tidak lagi ditentukan oleh ukuran perusahaan, melainkan oleh kemampuan untuk belajar, beradaptasi, dan berinovasi dengan cepat,” ujar Agus.
Tiga Pilar Utama dalam Keunggulan Bersaing di Era Digital
Menurut Agus, ada tiga pilar utama yang harus dijalankan oleh perusahaan agar dapat bertahan dan berkembang di tengah persaingan digital. Pilar pertama adalah pengambilan keputusan berbasis data. Perusahaan harus mampu memanfaatkan data pelanggan dan tren pasar untuk membuat keputusan yang lebih presisi dan relevan.
Pilar kedua adalah keunggulan pengalaman pelanggan. Perusahaan harus menghadirkan pengalaman yang konsisten, personal, dan bernilai emosional, sehingga dapat membangun kedekatan dan loyalitas pelanggan jangka panjang. Pilar ketiga adalah agilitas organisasi, yaitu kemampuan perusahaan untuk merespons perubahan eksternal dengan cepat dan adaptif.
Jika ketiga pilar ini dijalankan secara terpadu, perusahaan dapat memperkuat posisi mereka dalam menghadapi dinamika kompetisi digital yang semakin kompleks.
Contoh Sukses Perusahaan Digital di Indonesia
Beberapa perusahaan digital terkemuka di Indonesia seperti Sociolla, Shopee, dan Traveloka menjadi contoh nyata bagaimana budaya organisasi yang adaptif, berbasis data, dan kolaboratif dapat mempercepat proses inovasi. Budaya ini memungkinkan perusahaan untuk bereksperimen, belajar dari kegagalan, dan berkolaborasi dengan pelanggan serta mitra dalam pengembangan produk baru.
Kepemimpinan Digital: Penggerak Perubahan Budaya
Agus juga menyoroti peran penting kepemimpinan dalam mendorong transformasi digital. Pemimpin digital harus memiliki tiga kompetensi utama: visionary mindset, empathetic leadership, dan learning agility. Kompetensi-kompetensi ini memungkinkan pemimpin untuk menavigasi ketidakpastian serta memanfaatkan peluang baru dengan efektif.
Keunggulan bersaing di era digital juga diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satu contoh sukses adalah implementasi QRIS yang melibatkan regulator, perusahaan teknologi finansial, dan sektor ritel. Kolaborasi ini menciptakan solusi ekosistem yang menguntungkan bagi pelanggan dan efisien bagi dunia usaha.
Teknologi dengan Prinsip Kemanusiaan
Meski teknologi memainkan peran besar dalam transformasi digital, prinsip kemanusiaan—seperti empati, integritas, dan kreativitas—tetap harus dijaga. Agus menekankan bahwa digitalisasi tidak boleh menggantikan interaksi manusia, melainkan menjadi alat pemberdayaan untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
“Keunggulan bersaing di era digital tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kemampuan organisasi memaknai teknologi dengan pendekatan yang humanis dan berorientasi pada nilai,” jelas Agus.
Relevansi: Mata Uang Baru dalam Persaingan Bisnis
Agus menegaskan bahwa transformasi digital bukan tentang menjadi yang paling digital, melainkan menjadi yang paling relevan. Relevansi adalah kunci dalam mempertahankan posisi di pasar yang semakin kompetitif.
“Transformasi digital tidak hanya memerlukan kemampuan teknologis, tetapi juga visi strategis, kolaborasi ekosistem, serta keberanian untuk menghadirkan nilai berkelanjutan bagi pelanggan dan masyarakat,” tandasnya.