19 Desember 1972: Kembalinya Apollo 17 Menutup Babak Misi Bulan Berawak Amerika
Misi Terakhir Program Apollo Membawa Ratusan Sampel Bulan untuk Ilmu Pengetahuan
Pada akhir tahun 1972, dunia menyaksikan momen penting dalam sejarah eksplorasi antariksa. Apollo 17 resmi kembali ke Bumi pada 19 Desember, menandai berakhirnya rangkaian pendaratan manusia Amerika Serikat di Bulan.
Misi ini diluncurkan pada 7 Desember menggunakan roket raksasa Saturn V. Di dalamnya terdapat tiga awak, yakni Eugene A. Cernan sebagai komandan, Ronald E. Evans dari Angkatan Laut AS, serta Harrison H. Schmitt yang berprofesi sebagai ahli geologi. Mereka menyelesaikan perjalanan panjang sebelum akhirnya mendarat dengan selamat di wilayah Samudra Pasifik.
Apollo 17 merupakan penutup dari program eksplorasi Bulan yang dicanangkan sejak awal dekade 1960-an. Proyek ambisius tersebut menjadi salah satu tonggak utama dalam perlombaan antariksa era Perang Dingin.
Berdasarkan keterangan badan antariksa Amerika, misi ini tercatat sebagai yang terakhir, paling lama, dan paling berhasil di antara tujuh misi pendaratan Bulan berawak. Nilai keseluruhan proyek Apollo sendiri mencapai puluhan miliar dolar Amerika.
Selama berada di permukaan Bulan, para astronot berhasil menyelesaikan target ilmiah mereka. Mereka mengumpulkan material geologi dan mendirikan fasilitas penelitian di luar area pendaratan utama. Total sampel batuan dan tanah Bulan yang dibawa kembali mencapai 249 pon untuk dianalisis lebih lanjut di Bumi.
Kapsul ruang angkasa yang membawa awak Apollo 17 memiliki bobot sekitar 35.000 pon dan melaju puluhan ribu mil dari Bumi dengan kecepatan lebih dari 6.000 mil per jam sebelum memasuki atmosfer.
Ketika kembali menembus lapisan udara Bumi, para astronot merasakan tekanan ekstrem akibat perlambatan mendadak. Gaya gravitasi yang dirasakan meningkat hingga tiga kali lipat, sebelum sistem parasut membantu menurunkan kapsul secara stabil ke permukaan laut.
Usai pendaratan, ketiganya dievakuasi menggunakan helikopter menuju kapal induk. Proses penyambutan dilakukan secara resmi dengan iringan musik dan seremoni singkat.
Dalam pernyataan resminya, pimpinan NASA saat itu menegaskan bahwa Apollo 17 menjadi pembuktian penting terhadap keandalan sistem penerbangan antariksa serta kesiapan teknologi untuk eksplorasi luar angkasa di masa depan.
Ia menambahkan bahwa manusia telah menunjukkan kemampuannya menjelajah luar angkasa dan suatu hari akan kembali melanjutkan penjelajahan ke Bulan dan wilayah yang lebih jauh.
Jejak Sejarah Apollo 17
Misi yang berlangsung hampir dua pekan ini meninggalkan dampak besar bagi dunia sains dan eksplorasi kosmos. Presiden Amerika Serikat kala itu menyebut pencapaian Apollo 17 sebagai bagian dari sejarah besar yang akan terus dikenang.
Keberhasilan tersebut juga membuka jalan bagi proyek lanjutan, termasuk pembangunan Skylab, stasiun luar angkasa pertama Amerika yang dirancang untuk dihuni awak dalam jangka waktu panjang.
Pada periode berikutnya, para astronot dijadwalkan menjalani misi berbulan-bulan di orbit Bumi. Program ini bertujuan menguji ketahanan fisik dan mental manusia setelah era eksplorasi Bulan berakhir.
Menariknya, sebagian sampel Bulan yang dibawa Apollo 17 sengaja disegel dan baru dibuka kembali pada 2019. Material tersebut memberikan wawasan baru mengenai proses geologi di lingkungan tanpa atmosfer.
Tabung penyimpanan sampel mengandung gas yang terperangkap selama puluhan tahun. Para ilmuwan kemudian menggunakan perangkat khusus untuk mengekstrak dan mempelajari gas tersebut secara aman.
Dengan bantuan teknologi modern, penelitian lanjutan terhadap sampel Bulan terus dilakukan untuk memahami kandungan gas volatil serta sejarah pembentukan permukaannya, sebagaimana juga dilakukan pada sampel misi Apollo lainnya.